Wakil Bupati Pesisir Barat Hadiri Rapat Paripurna DPRD Tentang Rapenda
PESISIR BARAT, Rakyaterkini-Wakil Bupati
Pesisir Barat (Pesibar), Irawan Topani, S.H., M.Kn., menghadiri rapat paripurna
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dengan agenda Pandangan Umum Fraksi atas
Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) APBD Kabupaten Pesisir Barat (Pesibar)
Tahun Anggaran 2026, di ruang rapat paripurna DPRD Pesibar, Rabu (12/11/2025).
Rapat paripurna yang dipimpin langsung oleh Ketua DPRD Pesibar,
Mohammad Emil Lil Ardi, S.H., dan didampingi Wakil Ketua II DPRD, Muhammad Amin
Basri, S.M., juga dihadiri 17 dari 24 anggota DPRD. Selain itu tampak hadir
juga para Staf Ahli Bupati, Forkopimda, para kepala Organisasi Perangkat Daerah
(OPD), Camat, dan perwakilan Tim Penggerak-Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga
(TP-PKK), serta Darma Wanita Persatuan (DWP).
Pandangan Fraksi pertama disampaikan Fraksi NasDem melalui Juru
Bicara, Elya Triskova, M.Sos., mengatakan bahwa terhadap struktur APBD yang
Defisit, Fraksi NasDem mencermati adanya defisit sebesar Rp1 Milyar sebelum
pembiayaan. Meskipun defisit tersebut ditutup melalui Sisa Lebih Perhitungan
Anggaran (SILPA) tahun sebelumnya, Fraksi NasDem menilai perlu dilakukan
evaluasi terhadap efektivitas penyerapan anggaran di tahun berjalan agar
defisit tidak menjadi pola berulang. "Pemerintah Daerah perlu meningkatkan
kualitas perencanaan dan efisiensi program agar setiap rupiah memiliki nilai
manfaat yang optimal bagi masyarakat," ungkap Juru Bicara, Elya Triskova.
Terhadap rendahnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp60,9
Milyar atau hanya sekitar 7,8 persen dari total pendapatan masih menunjukkan
ketergantungan yang tinggi terhadap transfer pusat. Fraksi NasDem mendorong
pemerintah daerah untuk mengoptimalkan potensi pariwisata, kelautan, dan
perikanan sebagai sumber PAD baru. Meningkatkan digitalisasi layanan dan sistem
retribusi agar pendapatan lebih transparan dan efisien. "Dan Memberdayakan
BUMD dan UMKM lokak sebagai motor ekonomi daerah," lanjut Juru Bicara,
Elya Triskova.
Sedangkan terkait proporsi belanja operasional yang dominan,
menurut Juru Bicara, Elya Triskova, belanja operasi mencapai Rp640,9 Milyar
ataulebih dari 82 persen total belanja. Fraksi NasDem berpandangan bahwa porsi
belanja modal sebesar Rp15 Milyar masih terlalu kecil untuk mendorong
pertumbuhan infrastruktur dan pelayanan publik. "Kami mendorong agar
pemerintah melakukan reorientasi belanja kearah peningkatan sarana prasarana
produktif terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat,"
sambung Juru Bicara, Elya Triskova.
Diteruskan Juru Bicara, Elya Triskova, berkaitan dengan
perencanaan pembangunan yang berkelanjutan, Fraksi NasDem mendukung arah
Pembangunan yang disinergikan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
(RPJPD) 2025-2045. Namun Fraksi NasDem menekankan agar setiap program tahunan
memiliki indikator kinerja yang terukur dan berorientasi hasil.
"Pembangunan harus menyentuh wilayah pesisir, perdesaan, dan sentra
ekonomikecil, agar tidak terjadi ketimpangan antarwilayah di Pesibar,"
kata Juru Bicara, Elya Triskova.
Sebab itu, Fraksi NasDem meminta Pemkab Pesibar untuk segera
melakukan optimalisasi PAD, membentuk tim inovasi pendapatan daerah lintas OPD,
menerapkan sistem e-retribusi dan e-parking untuk menekan kebocoran,
menggalakkan promosi wisata Krui sebagai ikon ekonomi daerah.
Terhadap upaya efisiensi anggaran, Fraksi NasDem meminta Pemkab
Pesibar melakukan review program rutin tahunan agar tidak tumpang tindih,
memprioritaskan belanja modal yang berdaya guna bagi masyarakat luas, dan
peningkatan Transparansi dengan mempublikasikan dashboard realisasi APBD secara
daring agar masyarakat dapat ikut mengawasi.
"Tentang kolaborasi dan pembangunan, Fraksi NasDem mendorong
kemitraan sektorswasta, perguruan tinggi, dan komunitas lokaluntuk mempercepat
capaian Pembangunan di Pesibar. Tentang kewajiban pembayaran utang Pemkab
Pesibar, pembahasan Ranperda APBD 2026 dan situasi fiskal daerah yang kita
hadapi, khususnya terkait beban hutang Pemkab Pesibar kepada rekanan, fraksi
NasDem memandang perlu untuk menyampaikan sikap dan pandangan kami secara tegas
dan konstruktif. Utang harus dibayar tanpa menghentikan roda pemerintahan.
Pembayaran hutang pemerintah daerah pada tahun anggaran sebelumnya aalah
tanggungjawab pemkab dan wajib dilunasi untuk menjaga kredibilitas daerah dan
kepastian hukum. Fraksi NasDem berkomitmen untuk mengawal penyelesaian utang
dimaksud," tegas Juru Bicara, Elya Triskova.
Sementara itu, Fraksi NasDem mencatat adanya ketidaksesuaian
penulisan tahun anggaran pada sampul dokumen dan nota dinas yang tertulis 2025,
padahal substansi pembahasan merujuk pada Tahun Anggaran 2026. Meski hal
tersebut kesalahan dalam penulisan, hal itu mencerminkan kurangnya ketelitian
dalam menyajikan dokumen negara yang sangat penting. Karenanya diminta
eksekutif untuk segera mengoreksi semua dokumen pendukung sebelum penetapan
untuk menghindari masalah hukum dan mencacat administrasi di masa depan.
Terkait penggunaan aset kendaraan dinas, dengan banyak aset
kendaraan dinas yang ada di Pesibar, pemerintah daerah harus selektif
peruntukannya untuk kepentingan operasional ASN, atau pegawai yang memiliki
kewenangan Fraksi NasDem melihat ada beberapa kendaraan dinas yang dipakai oleh
beberapa tim sukses kepala daerah, tindakan ini secara nyata melanggar
Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (PermenPAN) Nomor 87 Tahun 2005
tentang pedoman efisiensi dan disiplin PNS, yang secara tegas mengatur bahwa
fasilitas negara termasuk kendaraan dinas hanya boleh digunakan untuk
kepentingan dinas dan oleh personal yang sah, yaitu PNS atau pejabat pemerintah
yang mendapat penugasan resmi. Pasal-pasal dalam peraturan tersebut menekankan
prinsip efisiensi, disiplin dan akuntabilitas penggunaan fasilitas negara.
Penggunaan mobil dinas oleh pihak non-ASN tanpa dasar penugasan resmi merupakan
pelanggaran terhadap disiplin kerja dan bentuk penyimpangan terhadap etika
admistrasi pemerintahan. Selain merusak citra pemerintah daerah, tindakan
ini juga berpotensi menimbulkan pemborosan anggaran negara, karena seluruh
biaya operasional kendaraan tersebut ditanggung oleh APBD. Ini mencederai semangat
reformasi birokrasi yang menjunjung tinggi integritas, profesionalisme dan
pelayanan publik yang bersih.
"Fraksi NasDem menegaskan komitmen untuk terus menjadi mitra
kritis dan solutif bagi Pemerintah Daerah bukan untuk mencari kelemahan,
melainkan untuk memastikan setiap kebijakan benar-benar berpihak pada rakyat
Pesibar. Dengan semangat restorasi untuk Pesibar maju, fraksi NasDem siap
berkolaborasi demi kemajuan daerah yang berkeadilan dan berkelanjutan,"
pungkas Juru Bicara, Elya Triskova.
Fraksi berikutnya dari Fraksi PDI Perjuangan melalui Juru Bicara,
Anggun Kurnia Dewi mengatakan bahwa,dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang
baik (good governance) dan pemerintahan yang bersih (clean governance)
sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang berlaku, maka pemerintah daerah
hendaknya mampu membuktikan kinerja secara nyata dan transparan. "Bupati
dan Wakil Bupati perlu menyusun kinerja berkenaan dengan Program Prioritas
sesuai dengan Visi dan Misi yang di rencanakan mesti dapat tercapai, yang mana
dimulai tahun 2026 sesuai dengan tahapan dan waktu yang ditetapkan," kata
Juru Bicara, Anggun Kurnia Dewi.
Fraksi PDI Perjuangan meminta Pemkab Pesibar melalukan sinkronisasi dan
harmonisasi dengan Perda dalam usul setiap anggaran daerah, sehingga terhindar
dari duplikasi atau tumpang tindihnya suatu kegiatan yang didanai dari berbagai
sumber.
Fraksi PDI Perjuangan juga meminta Pemkab Pesibar agar melakukan trobosan
berkenaan dengan APBD 2026 yang mengalami penurunan cukup signifikan yang telah
berdampak pada kantong-kantong untuk belanja pendanaan pemerintah daerah.
Fraksi PDI Perjuangan menekankan pentingnya inovasi Pemerintah Daerah dalam
menghadapi keterbatasan fiskal, maka pemerintah Daerah mesti merancang alokasi
belanja secara efektip dan efisien serta produktif.
"Fraksi PDI Perjuangan kepada Pemerintah Berkenaan dengan
serapan anggaran daerah terkait Pembangunan kantor PKK di Pekon Seray, dalam
hal ini telah dianggarkan sejak tahun 2023 sebesar Rp8,6 Milyar pada tahap
pertama, kemudian pada tahun 2024 dianggarkan Rp2,9 Milyar, sehingga jika
ditotalkan sebeesar Rp11,5 Milyar. Fraksi PDI Perjuang menilai bahwa anggaran
yang diserap tersebut belum berdampak kebermanfaatannya terhadap masyarakat,
bahkan belum dapat digunakan oleh pemerintah daerah itu sendiri, maka dalam
kajian kami terdapat indikasi korupsi dalam pekerjaan tersebut, Kami memberi
usul agar dilakukan audit oleh Aparat Penegak Hukum (APH)," pinta Juru
Bicara, Anggun Kurnia Dewi.
Selain itu Fraksi PDI Perjuangan meminta Pemkab Pesibar agar
melakukan kajian serta tindakan yang terukur berkenaan kejadian banjir yang
merendam bagian basement Komplek Perkantoran Pemkab Pesibar Kantor yang juga
menenggelamkan kenderaan Mobil beserta motor beberapa waktu lalu. Karenanya
Fraksi PDI Perjuangan meminta agar Pemkab Pesibar melakukan audit forensik
investigasi dengan melibatkan APH, proses investigasi yang mendalam, analisis
data yang kompleks serta penyusunan bukti yang valid sehingga dapat digunakan
dalam proses hukum maka akan mendapatkan kesimpulan bahwa Pembangunan Kantor
Bupati tidak memperhatikan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
"Ada beberapa gedung yang belum bisa di manfaatkan
sebagaimana mestinya seperti Gedung C, sedangkan sudah dilakukan serah terima
antara rekanan dengan pemda, ini merupakan pekerjaan yang sia-sia. Kami meminta
pemerintah daerah melakukan audit dan juga penundaan pembayaran Hutang Daerah
sebab hal tersebut berkaitan," tegas Juru Bicara, Anggun Kurnia Dewi.
Fraksi PDI Perjuangan meminta Pemkab Pesibar agar merealisasikan pembangunan
Jalan Lingkar Pekon Lemong, Kemudian melanjutkan pembangunan jalan Simpang
(Pekon Lemong -Pekon tanjung Jati) (Tanjung Jati- Rata Agung)di Kecamatan
Lemong, kemudian perbaikan jalur Melesom - Danau Ranau Kecamatah Lemong.
"Fraksi PDI Perjuangan meminta Pemkab Pesibar melalui dinas terkait agar
memberikan penjelasan terkait realisasi dana BOS, maka demikian kami menilai
bahwa Inspektorat perlu melakukan audit dana BOS agar terselenggaranya
pendidikan yang tepat guna," lanjut Juru Bicara, Anggun Kurnia Dewi.
Lebih lanjut, Fraksi PDI Perjuangan juga meminta agar adanya Revitalisasi Pusat
wisata Labuhan jukung, seperti pemulihan Pungsi Joging Track (jalur lari) yang
memang sudah pernah dibangun, sebab dalam pengawasan kami dilapangan bahwa
antusiasme masyarakat dalam berolah raga lari cukup signifikan sehingga budaya
sehat harus didukung dengan fasiliitas yang ada.
"Pemkab Pesibar juga agar dapat memacu PAD dengan berupaya
menyerap dan memaksimalkan sumber-sumber yang ada, Perda merupakan landasan
hukum dalam upaya memberi ruang bagi pemerintah daerah dalam menambah
pemasukan, maka perlu adanya kajian hukum yang lebih mendalam, selama ini
dinilai bahwa serapan pendapat dari pajak hiburan, minuman beralkohol. serta
lainya belum menjadi tambahan laba daerah, sedangkan seperti alkohol
peredarannya cukup tinggi, ruang lingkup hiburan yang belum maksimal juga perlu
di fasilitasi oleh pemerintah agar para pengusaha terus berkembang," imbuh
Juru Bicara, Anggun Kurnia Dewi.
Dilanjutkannya, Fraksi PDI Perjuangan meminta Pemerintah Daerah
agar memaksimalkan kinerja OPD, peningkatan kedisiplinan kerja, serta
integritas dan tanggungjawab. Pesibar memiliki musim hujan serta musim angin,
selain itu juga sering terjadi kebakaran. Maka pemerintah daerah didorong perlu
mengantisipasi lebih awal sebelum terjadinya bencana ditengah masyarakat, mulai
dari revitalisasi sungai, pengelolaan sampah, penerangan jalan dan titik kumpul
yang aman jika terjadi bencana.
"Pemkab juga harus memperhatikan, mengevaluasi, serta
meninjau Bendungan Way Bambang Pekon Tanjung Kemala Kecamatan Bangkunat, yang
dinilai tidak berfungsi sebagaimana perencanaannya. Kami juga mendorong agar
APBD harus berkesinambungan dengan RPJMD Pesibar, melaksanakan pembangunan
jalan lingkungan lingkar SD Sidomulyo dan Sidomukti Pekon Persiapan Kuta Mulya
dan jalan dusun Suka Maju serta Talang Baru Pekon Pagar Bukit yang beluk pernah
tersentuh pembangunan infrastuktur oleh Pemerintah Daerah. Pemasangan tapping
bok disetiap hotel harus maksimal, sehingga serapan pendapatan daerah bisa
efektif, terukur, dan akuntabel," tukas Juru Bicara, Anggun Kurnia Dewi.
Fraksi ketiga yakni Fraksi PPP melalui Juru Bicara, Fakhrurrazi
mengatakan Fraksi PPP mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat koordinasi
fiskal dengan pemerintah pusat serta mengoptimalkan aset agar kemandirian
fiskal daerah semakin kuat.
Fraksi PPP juga meminta agar Pemkab Pesibar melakukan efisiensi
terhadap belanja operasinal yang direncanakan sebesar Rp640.995.447.396,
mengingat disisi lain masyarakat menantikan pembangunan infrastuktur jalan,
irigasi, gedung sekolah dan infrastuktur lainnya secara merata. "Fraksi
PPP juga mempertanyakan langkah efektif dari Pemkab Pesibar terhadap rendahnya
kontribusi PAD yang selalu terjadi disetiap tahunnya," kata Juru Bicara,
Fakhrurrazi.
Keempat, Fraksi PPP meminta OPD terkait agar dapat memeriksa
lansung bagi penerima bantuan sosial (Bansos) tentang kesesuaian penerima
manfaat. Diharapkan hal tersebut menjadi program atau agenda rutinan OPD
terkait untuk menyelesaikan masalah ketimpangan sosial/kecemburuan sosial yang
terjadi di masyarakat pekon.
"Kami juga mengingatkan terhadap sektor-sektor pembangunan
seperti pendidikan dan kesehatan, agar OPD terkait menjaga pemerataan sarana
dan prasarana pendidikan serta memperhatikan persebaran fasilitas kesehatan.
Sektor infrasruktur, kami menekankan pentingnya perencanaan berbasis analasis
manfaat dan penguatan pemeliharaan agar pembangunan berkelanjutan. Pariwisata
dan koperindag, kami mendorong adanya sinergi lintas sektor serta kemitraan
antara pemeritah daerah dan masyarakat untuk menciptakan kebijakan ekonomi
daerah yang inovatif dan produktif. Keenam, Fraksi PPP meminta pemerintah
daerah untuk memprioritaskan peningkatan kapasitas usaha mikro dengan
kebudayaan sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan ekonomi daerah.
Fraksi PPP meminta pemerintah daaerah untuk menyediakan pelatihan dan
pendampingan kepada pelaku usaha mikro untuk meng-upgrade kemampuan pelaku
usaha dalam mengelola usaha yang berbasis kebudayaan, dengan demikian kami
berharap hal ini dapat menjadi salah satu pilar ekonomi daerah yang kuat dan
berkelanjutan, serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan
melestarikan kekayaan budaya lokal," tandas Juru Bicara, Fakhrurrazi.
Berikutnya dari Fraksi PKB melalui Juru Bicara, Edy Yurson,
mengatakan bahwa Fraksi PKB mengusulkan agar dilakukannya pinjaman terkait
belanja pegawai Tahun 2026 yang ditaksir sebesar Rp487.571.290.201.00. Sehingga
diharapkan dari pinjaman tersebut mampu membayarkan tunjangan kinerja dan
tunjangan lain para Aparat Sipil Negara (ASN), baik pejabat Eselon II, III, dan
staf dapat terbayarkan 100 persen.
"Tahun 2026 mulai memasuki dua tahun jabatan Bupati-Wakil
Bupati, akan tetapi realisasinprogram-program prioritas dan visi misi terbilang
minim. Sehingga kami berharap salah satu tujuan melakukan pinjaman oini adalah
guna memenuhi program-program prioritas Buapati -Wakil Buapti. Kami juga
meminta agar dilakukannya perbaikan irigasi Sungai Way Laay Kanan yang saat ini
jebol di empat titik berbeda, dan perbaikan kaki jembatan sungai Way Laay yang
mengakibatkan putusnya jalan transportasi menuju Pekon Laay, Penggawa V Ulu,
dan Penengahan. Pemkab juga harus menyertakan rencana pembayaran hutang pada
rencana APBD sesuai dengan rekomendasi dari BPK-RI dengan menyesuaikan terhadap
kemampuan keuangan ditahun berjalan tersebut," pungkas Juru Bicara, Edy
Yurson.
Sementara dari Fraksi Golkar melalui Juru Bicara, Gusti Kade
Artawan mengatakan bahwa, Pendapatan Daerah yang disusun di dalam APBD Tahun
Anggaran 2026 harus didasarkan pada perkiraan terukur secara rasional yang
memiliki kepastian terhadap sumber-sumber pendapatan. Fraksi Golkar,
mengingatkan agar tidak ada angka-angka khayalan yang akan berimbas pada
tersendatnya Cashflow Keuangan Daerah.
Fraksi Golkar mempertanyakan langkah Pemkab Pesibar dalam upaya
mewujudkan capaian target PAD, apa saja rincian dan bagaimana proyeksi capaian
terhadap komponen Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah sebesar
Rp17.090.114.145. "Dengan alokasi Belanja Modal hanya sebesar
Rp15.057.600.520, program dan kegiatan infrastruktur prioritas apa saja yang
akan didanai oleh Belanja Modal pada Tahun Anggaran 2026. Apa saja rincian
alokasi dan pos-pos utama yang membentuk Belanja Transfer sebesar
Rp121.846.294.176, khususnya yang ditujukan ke Alokasi Dana Desa (ADD),"
tanya Juru Bicara, Gusti Kade Artawan.
Selain itu Juru Bicara, Gusti Kade Artawan juga mempertanyakan
mekanisme penetapan dan penggunaan alokasi Belanja Tidak Terduga sebesar Rp3
Milyar, dan potensi risiko atau keadaan darurat apa yang perlu diantisipasi,
komposisi Belanja Operasi sebesar Rp.640.995.447.396,00 yang dialokasikan untuk
menjamin efisiensi dan efektivitas pelayanan publik. "Berkaitan dengan
tapal batas kehutanan dengan tanah marga, Fraksi Golkar meminta Bupati agar
membentuk Tim Khusus untuk menyelesaikan permasalahan tersebut," tegas
Juru Bicara, Gusti Kade Artawan.
Fraksi Golkar juga meminta Pemkah Pesibar agar Ranperda APBD Tahun
Anggaran 2026 menganut pemerataan pembangunan dan peningkatan infrasruktur
serta pembangunan jalan raya, sarana dan prasarana seperti Bendungan Way
Bambang di Pekon Tanjung Kemala kecamatan Bangkunat, jalan Pekon Penyandingan –
Pekon Sukamarga Kecamatan Bangkunat yang kurang memadai, kerusakan talud
penahan tanah ruas jalan Pekon PagarnBukit – Pekon Pemerihan, peningkatan badan
jalan Sumur Jaya -Talang meranjat, Pekon Tanjung Setia sepanjang 2 KM,
perbaikan jalan Villa Repong Way Batu Kelurahan Pasar Krui menuju Pekon
Pahmungan. "Kami meminta Pemerintah Daerah untuk semua infrastruktur jalan
yang menghubungkan antar desa, agar ada skala prioritas dalam pembangunan dan
perbaikannya sehingga kondisi jalan yang memang benar-benarnkondisinya rusak
parah bisa segera diperbaiki dan kedepan semua jalan penghubung antar desa yang
ada di Pesibar dapat merasakan pembangunan," tukas Juru Bicara, Gusti Kade
Artawan.
Terakhir dari Fraksi Amanat Indonesia Raya, melalui Juru Bicara,
Sahrul Jaya meminta agar Pemkab Pesibar meningkatkan target PAD sebesar Rp100
Milyar dari target awal sebesar Rp60.908.253.871,00. Fraksi Amanat Indonesia
Raya juga meminta agar Pemkab Pesibar melakukan upaya-upaya efisiensi anggaran
dalam menyikapi terjadinya defisit anggaran sebesar Rp1 Milyar, sehingga tidak
berdampak terhambatnya upaya pembangunan di Pesibar.
"Kami juga meminta agar Bupati dapat menetapkan secara
eksplisit anggaran pembangunan infrastruktur dan bidang pendidikan, khususnya
di wilayah-wilayah pedalaman," pungkas Juru Bicara, Sahrul Jaya.

Posting Komentar